Hidayah Itu Milik Allah… 9 kali ditolak permohonan mengerjakan umrah, akhirnya…

Hidayah Itu Milik Allah… 9 kali ditolak permohonan mengerjakan umrah, akhirnya…

Kisah berikut ini mungkin salah satu bentuk kehendak Allah. Kisah Bob Sick, seorang lelaki yang tubuhnya dipenuhi tatto akhirnya bisa beribadah dan menginjakkan kaki di Masjidil Haram, Mekkah. Berikut kisahnya,

lelaki ini memiliki nama asli Bob Yudhita Agung dikenal sebagai seniman kartunis berasal dari Jogjakarta. Badannya penuh tatoo. Dia merelakan kulit tubuhnya dijadikan tempat praktik para seniman tatoo untuk belajar.

Suatu ketika Bob Sick tiba-tiba ingin berangkat umrah mengunjungi Tanah Suci Mekkah dan berziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad SAW. Namun niat suci dari Bob tidak berjalan seperti dirancang. Ketika dirinya mendaftar ke sebuah agen perjalanan umrah, dirinya telah ditolak. Ada 9 agen perjalanan umrah yang telah menolak Bob Sick tanpa alasan yang jelas.

Akaun Facebook Bang Gasruk menulis soal Bob :

Sebanyak 9 syarikat pengiring jemaah Haji menolaknya kerana pelbagai alasan tentang pandangan Agama terhadap tatoo. Sampai akhirnya agen ke-10 yang Ia datangi setuju dan akhirnya Bob Sick dapat menjalankan Ibadah Umrah di Tanah Suci Mekkah.

Bob mengaku dia menyuruh orang lain untuk menguruskan urusannya mendaftar nama, tapi katanya, 9 agen perjalanan menolak Bob. Ketika ditanya, apakah penolakan itu kerana Bob penuh tatoo, Bob hanya menjawab : “mungkin tattoo penyebabnya.”

Tapi, disinilah justeru kebesaran Tuhan terlihat. Bob akhirnya telah berangkat setelah sebuah agen perjalanan menyetujui membawa Bob.

Dalam sebuah foto yang viral di sejumlah sosial media memperlihatkan ketika bob berada di Masjidil Haram dengan wajah penuh tatto sambil memakai Kopiah.

SIAPAKAH BOB SICK?

Bob Sick Yudhita Agung, pelukis dan presiden tato Indonesia, dikenal dengan tingkah lakukanya yang unik, eksentrik dan berani. Ia selalu menambah tatoo di tubuhnya setiap kali ada suatu hal yang dianggap penting, misalnya setiap kali dihukum para senior di kampus ISI atau ketika sedang patah hati. Akibatnya, seluruh tubuh Bob penuh tato dan nyaris tak bersisa.

Bob juga pernah membuat band bernama “Steak Daging Kacang Ijo.” Vokalisnya Bob sendiri yang tidak bisa menyanyi, sedang Yustoni Volunteero sebagai pemegang bas hanya menguasai beberapa kunci saja. Bisa dibayangkan seperti apa penampilan band ini. Tapi, di masa Orde Baru, band ini termasuk laris di Jogja. Di samping berani, Steak Daging Kacang Ijo selalu menghibur.

Dalam melukis, pada awalnya Bob seorang penganut left-pop, semangat seni yang diusung pelukis Jean Michael Basquiat yang mengkritik seni pop industrial Andy Warhol yang cenderung kapitalis. Namun, perlahan lukisan Bob semakin dekat dengan gaya brut-art atau “seni buruk rupa” yang diusung Jean Dubuffet. Dalam aliran ini, pelukis memiliki kebebasan penuh mengekspresikan diri tanpa dibatasi kaedah akademis dan ideologis. Lukisan Bob pun semakin “buruk” dan diburu para kolektor.

Bisa dibayangkan seperti apa sosok Bob Sick dengan tatoo, perilaku dan semangat seninya. Persepsi umum dalam sepintas lalu akan mengira Bob sebagai sosok yang brutal seperti citra orang bertatoo yang dibentuk Orde Baru yang identik dengan “preman.” Ditambah gaya hidupnya yang lepas kendali, maka citra itu jadi semakin kuat.

Tapi, sedikit orang yang tahu bahawa Bob adalah peribadi dengan hati yang soleh. Ia khatam Quran pada masa kecil, mengalami hidup di pesantren, dan terakhir ia menjalani umrah. Ketika hendak umrah, kerana seluruh tubuhnya bertatoo, pada awalnya biro-biro haji menolak melayani Bob. Namun, berkat usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bisa beribadah ke tanah suci.

Pada tengah malam, Bob biasa mengunci diri di studionya di Jogja. Di sana ia melukis secara secara paralel pada kanvas berukuran lebar. Ideanya sering berkaitan pada penderitaan manusia akibat eksploitasi, fanatisme, politik, cinta, dan persahabatan. Tapi, bagi Bob penderitaan itu bukan sebagai objek melainkan subjek. Itulah kenapa Bob ikut menjalani penderitaan itu dengan mengalami banyak kesakitan. Dari sana kemudian terdapat tambahan kata “Sick” di tengah namanya.

Jalan luka yang ditempuh Bob tentu merupakan pilihan yang berani. Ketika banyak orang menghindarinya, Bob justeru menceburkan diri ke sana. Hasilnya, luka-luka itu memancar pada karya-karyanya yang riang penuh warna, tapi menyimpan kemurnian, kedalaman dan keharuan.

Pada dini hari, ketika kebanyakan orang tengah tidur, Bob justeru baru selesai bekerja. Biasanya Bob akan merenung sendiri di rumahnya. “Aku sedang merindukan Muhammad,” katanya suatu kali kepada Syahrazade lewat layanan pesan instan. Di tengah kecenderungan orang mengenakan agama sebagai gaya hidup dan ideologi, Bob lebih memilih agama sebagai jalan jiwa dan spiritual. “Gusti Allah Sayang Padaku,” tulisnya pada salah satu lukisannya.

Sumber: virallaju